AYO KE LASEM PART 2

Lasem? Pernah denger nggak sih?

Lasem ini adalah salah satu kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dengan jarak 15 km dari Kota Rembang ke arah timur. Lasem memiliki karakteristik yang khas dibanding dengan tempat lain karena terdapat keunikan yang jarang ditemukan di tempat lain terutama di sepanjang Pantai Utara Jawa. Salah satu diantaranya adalah adanya Kawasan Pecinan Lasem. Konon orang Belanda menyebutnya sebagai Tiongkok kecil, karena miripnya dengan perkampungan orang Cina di negara aslinya sana. 

Kedatangan orang Cina di Lasem diperkirakan terjadi pada abad ke-14 dan kemudian mendirikan perkampungan Cina di Lasem. Kawasan Pecinan Lasem merupakan Kawasan Cagar Budaya yang memiliki keunikan dilihat dari sejarah, budaya dan arsitekturnya. Lasem merupakan pecinan tertua di Indonesia dan kota pelabuhan yang besar, dimana pelabuhan Lasem merupakan pintu gerbang masuknya pendatang asing terutama orang-orang Cina, oleh sebab itu kawasan Pecinan Lasem dikenal sebagai "Petit Chinois" yang artinya Cina kecil.

 

Pemukiman Cina di Lasem

Pada waktu itu, Lasem merupakan sebuah kawasan pecinan yang digunakan sebagai kawasan hunian sekaligus tempat kegiatan sosial untuk mendukung kehidupan penghuninya. Saat ini Kawasan Pecinan Lasem berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri batik. Di Lasem juga terdapat klenteng yang selalu dikunjungi baik oleh masyarakat yang ingin beribadah maupun yang hanya sekedar berwisata. Banyak bangunan yang masih terlihat kondisi arsitekturnya yang berlanggam Cina. Namun banyak dari bangunan di kawasan ini yang ditinggal oleh penghuninya, terlihat juga beberapa bangunan yang telah dibongkar dan dibangun kembali menjadi bangunan berarsitektur modern  sehingga beralih menjadi fungsi baru.

  

Rumah Berlanggam Cina dengan Pintu Regol

Karakteristik arsitektur di Lasem yaitu setiap rumah  mempunyai ciri spesifik dimana terdapat sebuah pintu gerbang besar (regol), kemudian di dalamnya terdapat lahan luas yang dibatasi dengan benteng tembok di sekelilingnya. Peninggalan arsitektur seperti itu sudah jarang ditemui di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. lokasi bangunan-bangunan tua di Lasem terletak di Desa Karangturi, Desa Babagan, Desa Soditan dan Desa Sumber Girang. 

Karena waktu itu kami tidak dapat sewa motor akhirnya berangkat naik bus kecil dari rembang-lasem bayar 15k per 2 orang. Begitu nyampe perempatan lasem langsung jalan kaki pede aja, eh nemu Rumah Oei pas dipinggir jalan besar.

1. Rumah Oei 

Regol Depan 
 
 
 
Tampak Depan
 
 
Ruang Tamu

 Tampak Belakang

Rumah Oei sudah berusia 200 tahun, namun konstruksinya masih asli, bangunannya sederhana namun terlihat megah dengan gaya arsitektur Cina. Bagian depan terdapat toko oleh-oleh, kemudian masuk gerbang terdapat bangunan utama terdiri dari ruang tamu yang kental dengan ornamen cina dan beberapa kamar.

   

Sudah 200 Tahun Berdiri

  

Banyak Foto Keluarga

   

Banyak Tulisan China 

 

Toko di Bagian Depan

Rumah Oei ini sekarang dipergunakan sebagai homestay dan terdapat warung juga yang jualan makanan berat, cemilan, dan minuman. Rumah Oei merupakan rumah milik Oei Am, seoarang cina asli yang datang ke Lasem dan membuat rumah disana. Rumah Oei berdiri sejak tahun 1818 di jalan Jatigoro No.10, Lasem.  Di bagian belakang terdapat bangunan lantai dua merupakan tempat penginapan.

   

Pintu Kamar Bangunan Depan 

  

Kamar Bagian Depan

 
 

Penginapan Lantai 2

Tangga Penginapan

 
Kamar yang Disewakan

Waktu itu di Rumah Oei ada sepeda kayuh 2 biji yang bisa di sewa, tapi sayangnya pas di pompa yang satu bannya bocor. yaudah deh lebih enak menyusuri gang-gang lasem dengan jalan kaki. walopun panasnya amit-amit.

Menyusuri jalan sambil liat map buat nyari Rumah Merah Heritage Lasem. Di sepanjang jalan juga ketemu bangunan tua namanya Rumah Ijo yang dipergunakan sebagai penginapan. Cuman bisa liat dari seberang jalan aja. 

 Penginapan Rumah Ijo

2. Rumah Merah Heritage Lasem 

 
Patung di depan Rumah Merah

Gerbang Rumah Merah
 
Rumah Merah Heritage ini letaknya ga jauh dari Rumah Oei, ibaratnya ya tinggal kepleset aja udah sampe sih haha. Trus bangunan nya mudah banget ditemukan karena cat nya berwarna merah paling nyolok dibanding dengan rumah di sekelilingnya. Di Rumah Merah Heritage ini juga ada tempat makan yang menyediakan berbagai seafood dan minuman. Kalo mau masuk ke Rumah Merah, nglewatin omah Batik Tiga Negeri. di Omah Batik Tiga Negeri banyak dijual batik-batik khas motif pesisiran Lasem, waktu itu ngga beli soalnya selain harganya ya lumayan juga gaada yang cocok (alesan aja).

Bagian Depan Rumah Merah Heritage

 Bagian Dalam Rumah Merah Heritage


Sumur di Belakang Rumah 

Bagian Belakang Rumah Merah Heritage

Masuk ke Rumah Merah Heritage kita bayar 5k/orang, habis itu dikasih gelang sama pegawainya dan juga dapet mas pemandu yang menjelaskan. Waktu itu tamunya hanya kami berempat. Jadi waktu di dalem bisa bernafas lega hehe.

 
Gelang 

 

Dapet Pemandu

Rumah Merah ini sudah beberapa kali tercatat berganti pemilik, hingga sampai saat ini dimiliki oleh Bapak Rudy Hartono. Oleh Bapak Rudy, Rumah Merah dikembalikan ke bentuk aslinya yaitu rumah yang berarsitektur Cina-Hindia dan dijadikan sebuah penginapan. Menginap di Rumah Merah pasti memberikan sensasi tersendiri bagi kita. Kalo ke Lasem boleh dicoba nih, bisa pesen lewat banyak aplikasi booking kayak traveloka, agoda, tiket.com, dll. 

Nuansa Cina dirumah ini sangat terasa sekali, ciri khas utamanya yaitu bangunan dikelilingi tembok tinggi berwarna merah dan pada bagian depan dekat pintu regol terdapat logo tulisan Rumah Merah Heritage Lasem. Warna merah menyala dan kuning mencolok sangat dominan di rumah ini. Pada bagian depan juga terdapat patung dewa dan banyak pernak-pernik khas Cina. Di bagian belakang rumah terdapat tempat pembuatan Batik Tiga Negeri. Biasanya kalo lagi ada tour suka dibuka pelatihan singkat bikin batik.

Rumah Merah Heritage ini nyambung dengan toko Batik Tiga Negeri, masih dalam satu kompleks. Jadi kalo sekalian belanja batik juga boleh deh. 

   

Regol di Omah Batik Tiga Negeri

 
 
Bagian Depan Omah Batik Tiga Negeri
 
 
 
 
Bagian Belakang Omah Batik Tiga Negeri

 

Baju Batik


 

Kain Batik Khas Lasem

3. Klenteng Po An Bio

 
Gapura Klenteng 

Klenteng Po An Bio ini ga jauh dari Rumah Merah Heritage, cukup jalan kaki aja udah nyampek. Terletak di Jl. Karangturi Gang. 7 No.15, Karangturi, Kecamatan Lasem. Berada di tengah perkampungan milik penduduk jadi gampang banget di temukan. Sayangnya waktu kesana kemarin Klenteng nya lagi tutup. Mungkin karena lagi masa pandemi kayak begini jadi hanya dibuka waktu ibadah dan dibuka hanya untuk jamaah. Nggak sempet tanya ke orang juga karena kosong, di kanan kiri Klenteng juga sepi. 

   

Atap Gapura Klenteng

Klenteng Po An Bio diperkirakan didirikan pada 1740. Keberadaan Klenteng tidak bisa dipisahkan dari komunitas tionghoa. Pada awalnya pemukiman orang tionghoa yang berada di dekat sungai Lasem disebelah barat-timur jalan arteri kemudian terus meluas dan berkembang hingga ke bagian selatan sehingga dibangunlah Klenteng Po An Bio ini.

   

Bangunan Utama Klenteng

Klenteng menghadap ke selatan ke arah Sungai Kemendung. Kemegahan Klenteng Po An Bio bisa dilihat dari kemegahan arsitektur gapuranya. Cat gapuranya juga gemesh banget yaitu shocking pink dan merah menyala. Bagian kanan dan kiri juga terdapat dua buah patung singa berwarna kuning keemasan.  Sayangnya kami ngga bisa masuk, jadinya cuman bisa lihat-lihat di depan saja.

   

Teman-Teman Kuliahku

4. Restaurant Hokky Lasem

   

Regol Masuk Restoran Hokky

Waktu itu sebenarnya pengen makan lontong tuyuhan, tapi jarak ke tempat makan lontong tuyuhan itu terlalu jauh kalo jalan kaki. Jadinya kita cari makan deket-deket rumah merah aja. Udah siang, panasnya kentang-kentang banget, jadinya haus laper semua jadi satu. Waktu jalan ke Klenteng ada satu restoran chinese food gitu di pinggir gang kecil. Restorannya di emperan rumah tua, kelihatannya sepi sih, tapi kayaknya enak. 

   

Suasana di Restoran Hokky

Menunya macem-macem chinese food, ada menu udang, cumi, rajungan, ikan, nasi goreng, mie goreng, ayam, cap cay, fuyung hay, dll. Setelah bingung milih waktu itu kami pesen nasi 4 porsi, ayam lada hitam, cap cay goreng, udang asam manis, dan 4 es limun kawis. Yang pertama dateng adalah es limun kawis, aduuuuhh.. rasanya seger banget, perpaduan asam manis dan bersoda. 

   

Es Sirup Limun Kawis

Tak lama kemudian pesanan makanan kami datang, dari tampilannya sih kelihatan enak banget. Pas dicobaaaa, iya seriusan enak banget. Aku rekomendasiin deh kalo ke Lasem coba makan ke Restoran Hokky. Dijamin endul deh. Harganya juga bersahabat banget, kami makan berempat habis 130k an saja. Habis tenaga penuh kita lanjutkan perjalanan kami.

   

Cap Cay Goreng Medium

   

Ayam Lada Hitam Medium  

 

Udang Asam Manis Medium

5. Pos Pesantren Kauman

 

Sebenernya ngga ke pesantrennya sih, tapi cuman ke pos jaga yang di depan dipinggir jalan tikungan pas. Letaknya ga jauh dari restoran hokky, masih satu jalan tapi kearah utara. Bangunanya lucu, atapnya berbentuk limasan dengan gaya khas cina, bangunannya di cat pake warna merah menyala, genting berwarna hijau, dan sedikit warna kuning keemasan pada beberapa bagian. Bagus kalo buat foto-foto hehe. mampir disini nggak lama soalnya numpang duduk dan foto aja.

6. Klenteng Cu An Kiong

   

Klenteng Tampak Depan

Ke Klenteng ini kita harus nyeberang jalan pantura dulu, alamatnya berada di Jl. Dasun No.19, Pereng, Soditan, Kec. Lasem. Lagi-lagi Klenteng tutup gaes, agak kecewa sih tapi yaudahlah lumayan lihat bagian depannya juga udah bagus banget. Ya ngintip-ngintip dikit kedalem. Untung di depan klenteng ada pohon sawo kecil, jadi bisa duduk disitu. Panasnya sungguh engap karena nggak ada angin.

 

Landskap paling penting di kota Lasem adalah ketiga klenteng yang ada tempat ini, tapi kami hanya bisa mengunjungi dua klenteng. Satu sudah dijelaskan sebelumnya yaitu Klenteng Po An Bio dan satu lagi Klenteng Cu An Kiong. Klenteng Cu An Kiong ini merupakan klenteng tertua yang ada di Lasem dengan Dewa yang dipuja yaitu Dewa Samudra. Diduga klenteng ini sudah ada sejak abad ke-15M, dan pernah dipugar pada tahun 1838. 

 

Klenteng Cu An Kiong memiliki bentuk bangunan khas daerah Cina bagian selatan. Jenis bangunan persegi empat yang dikenal dengan nama Siheyuan ini memiliki atap yang sering disebut atap ekor walet – atap Ying Shan dengan bentuk ekor walet atau Yinwei Xing. Jenis atap ini baru populer pada masa Dinasti Qing (1644-1911) dan sesuai peraturan jenis atap ini hanya digunakan sebagai atap bangunan kuil serta bangunan kantor dipenuhi oleh simbol-simbol keberuntungan. Namun di Lasem, beberapa bangunan rumah pun memiliki jenis atap ekor walet dengan detil ornamen simbol yang dipercaya sebagai tolak bala (Sumber; Kesengsemlasem.com).

Bagian dalamnya sebenarnya luar biasa sekali, tapi waktu lagi tutup jadi ngga bisa cerita banyak soal isi klenteng ini. Hanya bisa cerita bagian luarnya saja. Sama seperti klenteng sebelumnya, Klenteng Cu An Kiong ini juga terdapat gerbang megah di bagian depannya. Warnanya juga sama gemeshnya karena dominan warna pink. Bagian kanan dan kiri gerbang juga terdapat patung singa berwarna kuning keemasan. Pada bagian depan terdapat sepasang dewa.

  

 7. Rumah Tua Sepanjang Karangturi

 





Di sepanjang jalan menuju beberapa lokasi di atas, banyak ditemui beberapa rumah tua juga. Rumah tua disana memiliki ciri khas yaitu dikelilingi tembok tinggi dengan pintu regol pada bagian depannya. Beberapa rumah masih dihuni dan banyak juga yang sudah tidak dihuni. Ada yang masih terawat kemuian di cat bagus dan ada juga yang tidak terawat karena sudah tidak berpenghuni. Menyusuri Kota Lasem rasanya seperti menyusuri panasnya neraka haha, oh tidak. Menyusuri kota ini rasanya seperti menyusuri perkampungan cina pada masa lalu. 



 

Lasem bisa jadi salah satu bucket list tempat rekomendasi jalan-jalan, apalagi untuk kalian yang suka jalan ke perkampungan, nuansa vintage nya terasa, banyak bangunan tua yang bisa dijadikan objek foto. Kabarnya dalam waktu dekat Lasem akan di revitalisasi, jadinya akan lebih bagus dan nyaman. Banyak tempat yang masuk list kami tapi belum sempat kami kunjungi, karena kebanyakan milik perseorangan jadi harus bikin janji temu dulu untuk datang. Jadi suatu saat bisa dateng lagi.






 


Klenteng Cu An Kiong adalah tempat terakhir yang kami kunjungi, udah sore dan udah gempor kalo mau jalan lagi sis. Dari Lasem ke Rembang kami naik bus lagi. See You Again Lasem :)


You Might Also Like

7 Comments

  1. Nah ini yg dari kmren ditungguin next partnya Lasem

    ReplyDelete
  2. Wow banyak banget yaa yg bisa dikunjungin aku Kira cuman klenteng aja ehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak kak, bahkan itu banyak yg belum sempet aku kunjungin karena susah kendaraan dan rumah perseorangan jadi harus bikin janji temu dulu heheh

      Delete
  3. Replies
    1. Mbak, aku pernah cek di shopee ada haha.. merk dan rasa nya sama.. gih cek..

      Delete

Teman Jalan