SHORT ESCAPE TO TUBAN
Tuban adalah salah satu Kabupaten yang terletak di pantai utara Jawa Timur. Tuban tidak hanya sebuah kota yang memiliki letak strategis di daerah pesisir namun juga memiliki peranan penting dalam sejarah perdagangan dan perkembangan budaya di Nusantara. Terkenal dengan julukan sebagai “Tuban Bumi Wali” yang menyimpan banyak sejarah dan budaya tentang penyebaran agama islam di Pulau Jawa. Selain di kenal sebagai Kota Wali, Tuban juga terkenal sebagai Kota Tuak dan Kota Seribu Goa.
Kebanyakan orang-orang datang ke Tuban untuk berwisata religi di Makam Sunan Bonang. Namun selain berwisata religi sebenarnya Tuban juga memiliki potensi keindahan alam yang memanjakan mata. Jejeran berbagai pantai cantik, goa, air terjun, klenteng bersejarah, hingga kulinernya yang memanjakan lidah.
Kadang-kadang kami merasa bosan tinggal di satu kota bertahun-tahun makanya sesekali juga jalan-jalan dan menginap di kota lain hanya sekedar untuk “escape” dan berganti suasana. Salah satu kota yang menarik untuk di kunjungi adalah Tuban. Perjalanan dari tempat kami tinggal di Mojokerto yaitu membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Nyantai aja sih gausah buru-buru.
Tidak ada intinerary yang saklek kami cuman browsing mana tempat yang menarik di sekitaran kota yang jadi ikon Kota Tuban. Saking santainya kami sampai belum booking hotel yaudah pas disana baru cari-cari ya tetep lewat online. Kami pesen hotel lewat tiktok tapi cekoutnya di platform Agoda. Agoda ini emang dari dulu lebih murah kalo di banding aplikasi lainnya. Kami menginap di Hotel Front One King Tuban sudah plus sarapan dapat harga di 300 ribuan saja.
Berikut adalah beberapa lokasi wisata dan kulineran yang kami kunjungi secara spontan itu:
1. Warung Pak To
Warung Pak To adalah salah satu warung becek mentok yang paling terkenal di Tuban. Berlokasi di Dusun Winong, Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban, buka pukul 09.00-15.00. Warungnya sederhana saja dengan nuansa pedesaan, kita kalau pesan dan bayar langsung masuk ke dalam dapurnya yang masih tradisional. Lokasi warung berada di tengah perkampungan di kelilingi pohon siwalan yang menjulang tinggi. Jadi lumayan adem sejuk walaupun sangat gersang.
Menu makanannya banyak ada Becek Mentok, bekicot rica, belut goreng, dll. Selain legen minumannya juga macem-macem aku cantumin aja ya di foto biar bisa lihat sendiri hehe. Ini sepertinya adalah warung legen langganan orang-orang lokal ya? Karena yang dateng rata-rata pada bawa mobil, udah familiar dengan menunya, bahkan sepertinya langganan para pns setempat.
Kami datang pukul 14.00 beberapa menunya sudah habis bahkan primadona si legen pun sudah habis jadi ga kebagian segernya legen di warung ini. Kami pesan becek mentok, belut goreng, dan es blewah. Masakan orang Tuban itu cenderung asin, gurih, dan pedas. Kuah becek mentok sungguh kaya bumbu dan medok, mentoknya empuk gak ulet sama sekali. Belut gorengnya empuk, gak bau, dan yang pasti pedes asin rasanya. Aku sih cocok sama masakannya cuma agak kepedesan buatku. Wajib di coba kalo ke tuban.
2. Klenteng Kwan Sing Bio
Berada di Jalan Martadinata No.1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban. Letaknyanya nih strategis pas banget di tepi jalan pantura menghadap pantai utara, hadapan dengan Pantai Gerdu Laut. Klenteng Kwan Sing Bio adalah tempat ibadah Tri Dharma untuk 3 penganut Taoisme, Konghucu, dan Budha.
Klenteng ini didirikan pada tahun 1773 di atas tanah seluas 4-5 hektare sehingga membuatnya menjadi klenteng terbesar se-Asia Tenggara. Yang menjadi ikon dari klenteng ini adalah adanya patung kepiting raksasa di atas gerbang masuk menandakan lokasi klenteng berada di daerah tambak dengan penghasil kepiting.
Waktu paling tepat datang kesini adalah sore hari karena nggak panas dan cocok banget sekalian sunsetan di gerdu laut. Kebetulan waktu itu kami datang ada pertujukan Wayang Potehi. Masuk kesini gratis ya tidak di pungut biaya. Area Klenteng yang dijadikan wisata itu bangunan sebelah kiri, sedangkan bangunan tempat ibadah tidak boleh di masukin kecuali untuk ibadah. Kapan-kapan aku akan nulis sendiri mengenai detail klenteng ini ya.
3. Pantai Gerdu Laut
Setelah dari klenteng tinggal nyebrang aja menikmati sunsetan di Pantai Gerdu Laut. Kalo sore rame sekali orang-orang pada sunsetan atau sekedar nongkrong ngopi, bengong menikmati suasana. Sebenernya ini bukan tempat wisata tapi tempat nelayan untuk menyandarkan perahunya tetapi karena pemandangannya bagus jadi ya ramai di kunjungi orang.
Kalau sore air lautnya itu surut jadi kita bisa turun ke bawah mainan air dan sekedar foto-foto. Tapi semakin malam air lautnya juga makin naik sih. Disini gak bayar ruang terbuka umum aja jadi cocok untuk ngangon bocah hehe.
4. Ikan Bakar Pantura Basra Tuban
Makan malam memutuskan untuk makan seafood karena ga afdol dong ya ke pesisir tapi ga makan ikan. Setelah browsing cari warung seafood di kota akhirnya nemu warung Ikan Bakar Pantura. Terletak di Jl. Basuki Rachmat no.118, Sidomulyo, Kecamatan Tuban. Udah kebayang makan ikan bakar, rahang tuna, udang, dan kerang. Reviewnya di google pun bagus-bagus dan katanya enak.
Pas nyampe lihat buku menu di cari-cari kok ga nemu ikan laut bakarnya? Pas tanya ternyata cabang disini lebih fokus ke chinese food. Cabang yang satunya baru fokusnya ke seafood, aduhh kecewa deh. Akhirnya pesen menu paketan ajadeh, ada nasi sebakul, ayam goreng, ikan tawar bakar, sambal, cah kangkung, dan es teh. Waktu itu nambah kerang ijo saus padang dan ini menu paling enak menurutku.
5. Alun-alun Tuban
Sekarang kalau mengunjungi suatu kota wajib banget ke alun-alun karena menuruti bocil. Alun-alun Tuban ini di jadikan ruang terbuka hijau di pusat kota yang baru selesai di revitalisasi dan dekat dengan area religi sejarah. Berdekatan dengan masjid agung, pantai boom, dan wisata religi Sunan Bonang.
Alun-alunnya bagus, luas, dan estetik, mungkin karena baru selesai di revitalisasi ya. Kalau isinya alun-alun ya sama seperti tempat lain ada penjual mainan, penjual makanan, dan orang-orang berkumpul dengan berbagai aktifitasnya.
Karena mumpung berdekatan dengan Makam Sunan Bonang jadi aku jalan sendiri ke makam. Walau malam gausah takut karena tempatnya rame penjual dan peziarah. Aku cuma ceritakan sejarah singkat Sunan Bonang aja, nama asli beliau adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. beliau adalah anak keempat dan putra pertama dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila, serta kakak Sunan Drajat yang juga anggota Wali Songo.
Makam Sunan Bonang merupakan Situs Cagar Budaya yang di lindungai, terletak di Dukuh Kauman, Kelurahan Kutorejo, Tuban. Terdapat tiga gapura yang berdiri di dalam kompleks makam. Gapura pertama berbentuk regol bercorak hindu-budha menandakan bahwa peziarah memasuki area suci. Gapura kedua berbentuk paduraksa dengan hiasan piring bercorak ornamen bunga dan tulisan arab.
Memasuki jalan setelah gapura ketiga akan di temui banyak makam merupakan makam kerabat dan para pengikut Sunan Bonang. Makam Sunan Bonang berada di dalam cungkup yang letaknya ada di bagian tengah dan posisinya lebih rendah di banding makam lainnya. Disinilah tempat para peziarah bersila dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Dari semua hal di makam ini yang paling di sayangkan adalah, kenapa nisan-nisan kuno nya sudah berganti menjadi nisan baru?
7. Pempek dan Siomay Cak To
Ini juga random banget waktu makan ikan bakar pantura lihat ada warung pempek dan siomay yang rame banget. Trus ngide gimana kalo besok makan siang disitu aja. Jadi lokasinya tepat di depan Warung ikan Bakar Pantura di Jalan Basuki Rachmat. Kami datang pas makan siang dan warungnya jadi lumayan rame.
Kami pesan pempek kapal selam, pempek adaan, dan siomay, lengkap dengan es tehnya. So far rasanya lumayan sih tapi pempeknya kurang berasa ikannya juga cukonya kurang kentel. Tapi untuk harga 13k ini ya udah lumayan lah sesuai harga hehe. Cobain deh kalo lagi berkunjung ke Tuban.




















0 Comments