MENENGOK WARISAN BUDAYA PRASEJARAH DI MUSEUM SITUS SONG TERUS PACITAN


Pacitan merupakan kabupaten yang dikenal luas sebagai salah satu Situs Prasejarah paling terkenal di indonesia bahkan di dunia. Menyimpan berbagai bukti evolusi lingkungan sejak jutaan tahun lalu yang diikuti oleh jejak adaptasi manusia kurang lebih 300. 000 tahun yang lalu. Juga sebagai saksi perjalanan kehidupan berbagai kelompok ras manusia yang pernah hidup. Dengan pentingnya kawasan ini maka berdirilah museum untuk memamerkan berbagai tinggalan prasejarah di kawasan ini yaitu Museum Situs Song Terus. 

Terletak di Kawasan Cagar Budaya Gunung Sewu, Jl. Gua Song terus, Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Jaraknya memang agak jauh dari Kota Pacitan sekitar 22 km dan bisa di tempuh dengan 40 menit perjalanan. Buka dari hari selasa hingga minggu pukul 08.00-16.00, hari senin dan hari besar keagamaan tutup. Tiket masuknya cukup terjangkau yaitu 15k.

Museum ini di rancang melalaui sayembara yang di menangkan oleh PT. Urban Indonesia yang kemudian mulai dibangun sejak 2016 hingga 2019. Penataan ruang pamernya selesai di kerjakan pada desember 2020, diluncurkan pada 12 oktober 2022, dan kemudian diresmikan  16 mei 2024. 


Bangunan museum ini sangat modern dan futuristik, kalo anak jaman sekarang itu nyebutnya estetik di setiap sudutnya. Berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar dengan 3 lantai bangunan. Lantai basement terdiri dari ruang penelitian, ruang pengelolaan koleksi, ruang rapat, perkantoran, serta ruang akomodasi. Lantai dasar terdiri dari ruang tamu VIP, kafetaria, dan ruang pameran temporer. Dan lantai atas terbagi menjadi beberapa galeri, ruang audio visual, auditorium, serta gudang penyimpanan. Selain itu juga terdapat fasilitas pendukung seperti gedung amfiteater, ruang audio visual, perpustakaan, serta fasilitas umum yang meliputi toilet, mushola, serta mes.






Museum ini masuk dalam kategori museum khusus yang fokusnya pada tema tertentu yaitu tentang prasejarah Gunung Sewu, berbagai macam artefak beserta manusia pendukungnya, serta aspek lingkungan terkait Kawasan Situs Gunung Sewu. Memiliki koleksi yang sangat banyak dan beragam yaitu lebih dari 4.600 koleksi tersimpan disini. Koleksi disini meliputi berbagai jenis alat-alat batu prasejarah pacitan yang dikenal luas dengan sebutan alat batu pacitanian, berbagai fosil flora dan fauna, replika kerangka manusia prasejarah, serta alat-alat kebudayaan yang masih ada hubungannya sampai sekarang ini. 



Pacitan terkenal dari alat batunya yang di sebut dengan alat batu Pacitanian yang merupakan istilah untuk menyebut himpunan alat-alat batu Paleolitik yang banyak di temukan di dasar Sungai Baksoka, berupa Kapak Perimbas, Kapak Penetak, Kapak Genggam, serta Alat Serpih dan Bilah. Ciri khas alat batu pacitanian adalah pembuatannya masih sangat kasar,  sederhana, dan belum di buat halus. Tapi uniknya sampai sekarang belum pernah di temukan kerangka manusia di sekitar Sungai Baksoka, jadi siapa sebenarnya manusia yang membuat alat batu ini? Masih di pertanyakan. 



Asal mula berdirinya museum ini diberi nama Song Terus karena lokasinya berada tepat di depan Situs Goa Song Terus. Goa Song terus merupakan salah situs goa hunian yang paling penting di Kawasan Gunung Sewu yang menyimpan jejak manusia sejak 300.000 hinga 6.000 tahun yang lalu. Kotak-kotak galian menjadi saksi para arkeolog menyingkap kehidupan manusia purba di wilayah tersebut. 


Pada saat penggalian di temukan kerangka ikonik bernama Mbah Sayem yang di perkirakan hidup sekitar 8.500-9.000 tahun yang lalu. Mbah Sayem ditemukan saat penggalian tahun 1999, adalah seorang laki-laki yang di perkirakan berusia 40-50 tahun. Berdasarkan ciri fisik kerangkanya dia masuk kedalam ras Australomamesid yang merupakan kategori manusia awal yang menghuni Nusantara. Mbah Sayem adalah seorang pemburu yang di perkuat dengan penemuan tulang hewan dan alat berburu serta beberapa bagian tulangnya yang patah saat masih hidup. Pada saat itu juga sudah mengenal ritual penguburan karena Mbah Sayem di temukan bersama dengan bekal kubur berupa alat serpih dan lancipan tulang. Posisi tubuhnya juga meringkuk terlipat dengan posisi punggung menghadap dinding. Penguburan Mbah Sayem merupakan penguburan individu secara terlipat tertua di Asia Tenggara. 

Kerangka Mbah Sayem

Kerangka Song Keplek

Alur di Museum Song Terus adalah masuk membeli tiket di loket kemudian di arahkan memasuki ruangan bioskop. Di dalamnya kita menonton tentang prasejarah gunung sewu. Selesai menonton kita bisa bebas menikmati ruang pamer sambil takjub dengan bangunan museum yang begitu megah. Museum Song Terus memiliki enam galeri yang mengangkat tema khusus. Zona 1 merupakan introduksi mengenai pengantar dasar situs hunian, ceruk alam, dan karakteristik sungai bawah tanah. Zona 2 menjelaskan mengenai bentang alam di Gunung Sewu. Zona 3 sampai 5 menjelaskan menganai alur kronologis dan peradaban dari masa pleistosen hingga holosen. Zona 6 merupakan bagian kesimpulan menampilkan kesinambungan budaya masa lalu dengan masa kini yang masih berlanjut. 


Selesai dari museum kami mampir ke gua tapi sayangnya jupelnya tidak ada jadi nggak bisa masuk deh. Cukup lihat saja dari depan dan foto-foto. Menurutku Museum Song Terus adalah salah satu museum yang wajib di kunjungi bagi sobat pecinta museum apalagi yang berkunjung ke Pacitan. Pacitan merupakan saksi bisu kawasan yang dihuni oleh manusia awal Nusantara sejak puluhan ribu tahun yang lalu. 



You Might Also Like

0 Comments

Teman Jalan